Indonesia

Koksidiosis pada Unggas

Expand All
  • Koksidiosis atau disebut juga Penyakit Berak Darah merupakan penyakit pencernaan yang disebabkan oleh protozoa parasit Genus Eimeria. Eimeria yang menyerang unggas terdiri atas sembilan jenis, enam diantaranya sangat pathogen menyerang ayam. Eimeria acervulina, E. maxima, E. mitis dan E. tenella sering menyerang ayam sampai umur 6 minggu terutama pada broiler, sedangkan E. necatrix dan E. brunetti menyerang ayam pada umur yang lebih tua.

    Karakteristik dari Eimeria spp. adalah:

    1. Siklus hidup langsung: tanpa induk semang perantara. 
    Siklus hidup Eimeria spp. adalah 4-7 hari di dalam tubuh ayam tergantung pada spesiesnya. Ookista dikeluarkan oleh ayam bersama dengan kotoran dan akan bersporulasi pada kondisi optimum suhu 21°–32°C, kelembaban dan oksigen yang cukup. Pada kondisi yang tidak optimum, ookista akan bertahan lama menunggu sampai kondisi lingkungan menjadi optimum.

    2. Eimeria merupakan spesies spesifik:
    - Morfologi: Bentuk dan ukuran ookista Eimeria bervariasi tergantung spesiesnya. 
    - Induk Semang: Jenis koksi yang menyerang ayam tidak menyerang hewan lain.
    - Kekebalan: tidak ada kekebalan silang antar spesies Eimeria.
    - Lokasi infeksi: masing-masing spesies Eimeria menyerang bagian usus tertentu.

  • Infeksi terjadi dengan ditemukannya oosista yang telah bersporulasi. Untuk terjadinya sporulasi ini diperlukan tempat yang cocok, O2 yang cukup, kelembaban yang sedang dan temperatur yang hangat, diperlukan waktu 48 jam. Sporulasi lebih cepat 28 °C dan tidak terjadi sporulasi pada suhu 8 °C. Waktu yang diperlukan untuk bersporulasi minimal 18 jam pada suhu 29 °C, 21 jam pada suhu 26,5 – 28 °C dan 24 jam pada suhu 32 °C. Sporulasi sempurna dicapai pada waktu 22 – 24 jam pada suhu 29 °C. Oosista akan pecah dan melepaskan sporosista akibat kontraksi ventriculus, rangsangan karbondioksida, enzim tripsin dan cairan empedu dalam usus kecil. Sporozoit yang masuk akan menembus epithel, kemudian menembus membran dasar, menuju tunika propria. Didalam sel epitel, sporozoit menjadi tropozoit dalam waktu 24 jam dan memperbanyak diri secara aseksual dengan skizogoni dan menghasilkan skizon generasi pertama. Adanya perdarahan hebat yang disebabkan pecahnya pembuluh darah sekum karena desakan skizon generasi kedua, skizon generasi kedua pecah dan merozoit keluar dan masuk kedalam lumen usus. Sporozoit akan berkembang menjadi stasium seksual yaitu makrogamet dan mikrogamet. Fertilisasi akan menghasilkan zygot yang akan berkembang menjadi oosista dan dikeluarkan bersama feses.

    • Kotoran lembek cenderung cair dan berwarna coklat kehitaman karena mengandung darah
    • Pertumbuhan terhambat
    • Nafsu makan menurun
    • Pada nekropsi ayam yang mengalami kematian akibat penyakit ini akan pada usus besarnya akan bengkak berisi darah

    Perubahan makroskopik dan mikroskopik yang ditimbulkan berbeda-beda tergantung speciesnya.

    1.Eimeria acervulina

    Terdapat bintik putih pada permukaan mukosa duodenum  dan bisa mencapai usus tengah bagian atas.

    2. Eimeria brunetti

    Menyebabkan kemerahan dan haemorrhagi pada kolon dan leher sekum.

    3.Eimeria maxima

    Menyebabkan ptechiae pada permukaan serosal pada usus tengah.

    4.Eimeria mitis

    Ileum terlihat pucat dan lunak. Secara mikroskopik ditemukan skizon dan gametosit pada superficial mukosa. Oosista bulat dan kecil.

    5.Eimeria mivati

    Pada awal infeksi, terlihat lesi di duodenum dan dapat melanjut sampai sekum dan kloaka. Lesi yang ditimbulkan mirip dengan Eimeria acervulina.

    6.Eimeria necatrix

    Menyebabkan ballooning pada usus tengah dan bintik putih dan ptechiae dengan karakteristik lesio ‘garam dan lada’.

    7. Eimeria praecox

    Perubahan makroskopik terlihat lumen berisi cairan kadang-kadang mengandung mukus. Terlihat hemoragi petechie pada bagian mukosa duodenum.

    8.Eimeria tenella

    Penebalan dinding sekum dan berisi darah.

  • Berdasarkan pemeriksaan mikroskopik feses atau kerokan lesi spesifik, penilaian lesi (lession scoring), penilaian feses (droppings scoring) dan histopatologi.

    Spesies Eimeria dapat diidentifikasikan dari ukuran oosista, bentuk oosista, lokasi dalam pencernaan, lesi yang ditimbulkan, periode prepaten dan waktu sporulasi.

  • Pengendalian penyakit koksidiosis sangat berkaitan dengan manajemen pemeliharaan. Lingkungan kandang yang lembab merupakan faktor pemacu ookista untuk cepat bersporulasi. Koksidia sangat tahan di lingkungan dan bereproduksi dengan cepat di dalam tubuh ayam dalam jumlah besar. Hanya dari satu ookista dapat menghasilkan lebih dari 500.000 keturunan dalam empat sampai tujuh hari. Di lingkungan yang lembab, ookista aktif bersporulasi. Namun demikian, koksidiosis juga merupakan ancaman bagi peternakan unggas di daerah kering dan sepanjang tahun. Karena sifatnya yang tahan dan produktif ini, mustahil menghilangkan koksi dari peternakan unggas. Oleh karena itu dibutuhkan manajemen yang tepat dalam pengendalian koksidiosis.
    Manajemen pengendalian koksi pada suatu area didahului dengan mengidentifikasi jenis Eimeria pada area tersebut. Identifikasi ookista dilakukan secara mikroskopis di laboratorium dan dapat dilanjutkan dengan OPG count yaitu perhitungan ookista per gram tinja. Secara makroskopis dapat dicatat dan dihitung skor lesio pada usus bagian atas, tengah, bawah dan sekum untuk menunjukkan derajat keparahan invasi parasit koksi. Dengan mengetahui jenis koksi yang menyerang suatu area, maka kemudian ditentukan manajemen koksidiosis yang tepat untuk daerah tersebut.
    Serangkaian produk telah tersedia di seluruh dunia sebagai solusi manajemen koksidiosis. Vaksin, anti koksi melalui pakan dan air minum. Antikoksi melalui pakan dibagi menjadi dua golongan yaitu antikoksi Ionofor dan antikoksi sintetik. Disebut ionofor karena golongan ini membawa ion tertentu melintasi membran sel. Gangguan pada pompa natrium membuat ketidakseimbangan osmotik sel parasit dan menyebabkan sel pecah.

    Anti koksi ionofor dibagi menjadi tiga kelas berdasar afinitas terhadap kation:

    1. Monovalent: Narasin, Salinomycin, Monensin
    2. Divalent: Lasalocid (Avatec®20%)
    3. Monovalent glycoside: Maduramycin (Cygro®1%) dan Semduramycin.

    Golongan antikoksi sintetik umumnya bekerja pada stadium awal sampai akhir pada siklus hidup parasit. Ada beberapa macam sediaan antikoksi sintetik, diantaranya: Robenidine (Cycostat®66G), Decoquinate (Deccox® 6%), Diclazuril dan Nicarbazin.

  • Cygro 1%
    Avatec 20%
    Cycostat 66G
    Deccox 6%

Informasi Kontak

Talavera Suite, 19th Floor Unit 05-06
Jl. Letjen TB. Simatupang Kav. 22-26
Cilandak, Jakarta Selatan 12430
Indonesia
Jakarta Selatan 12430 .
Zoetis.Indonesia@zoetis.com
Phone : +622130052400 Fax: +6565125096